Kemegahan Masjid Raya Singkawang

Masjid Raya Singkawang adalah bangunan masjid yang sangat megah di kota Singkawang di provinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid ini berjarak sekitar 200 meter dari Tri Darma Bumi Raya Vihara, candi tertua di kota Singkawang.

Terletak di tengah-tengah kawasan perumahan masyarakat Cina, masjid tinggi ini tampaknya mencerminkan keharmonisan agama yang telah berlangsung damai selama bertahun-tahun. Dan dengan keberadaan Masjid Raya Singkawang, sebuah bangunan masjid tercipta yang merupakan simbol harmoni multi-etnis, khususnya di kota Singkawang.

Kemegahan Masjid Raya Singkawang


Masjid Agung Singkawang secara geografis terletak di Jalan Merdeka, Singkawang, Kalimantan Barat. Arsitektur bangunan masjid besar ini terlihat sangat megah dan indah. Untuk memasuki halaman sendirian di masjid ini, pengunjung harus melewati setidaknya 15 langkah. Tangga ini memiliki posisi yang sangat strategis dan berada di kanan, belakang dan juga di sebelah kiri.
Untuk menunjukkan keindahan arsitektur di Masjid Rakyat Singkawang, kunjungi Masjid Singkawang di malam hari, yang dihiasi pada malam hari dengan berbagai lentera dan lampu yang dapat menerangi seluruh area masjid. Kombinasi hijau dan putih pada dinding masjid telah menjadi campuran warna yang membuat Masjid Singkawang terlihat sangat cerah.
Sejarah Masjid Agung Singkawang pertama kali dicatat pada tahun 1880 oleh dua pedagang, Bawasahib Maricar dan Haji. B. Achmad Maricar (putra Mariawas Bawasahib). Naman Basawahib Maricar adalah salah satu pedagang yang dilaporkan dari sebuah distrik kecil di wilayah Karikal, Calcutta, India, tempat ia datang ke Indonesia pada tahun 1850. Yang paling muda.
Masjid Agung Singkawang dibangun di tanah pendiri H. Bawasahib Maricar. Setidaknya masjid ini pernah mengalami kebakaran pada tahun 1937. Setelah itu, masjid akhirnya dibangun dan digunakan kembali sejak kebakaran, seperti halnya daratan, yang sedikit diperluas pada tahun 1940 oleh tiga bersaudara, yaitu Haji B. Achmad Maricar. B. Mohammad Haniffa Maricar dan B Chalid Maricar.
Masing-masing dari tiga bersaudara adalah anak kandung dari Bitanahib Maricar Kapitan. Masjid Singkawang dibangun di atas tanah mandiri, yang merupakan warisan berharga dari orang tuanya, Kapitan Bawasahib Maricar.
Ada menara yang menjulang tinggi dengan menara di sebelah kiri masjid. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1953. Kletika memiliki ide yang dikembangkan oleh tiga orang, yaitu H. Munir Haniffa, Djenawi Tahir dan Kassim Chalid.


Dengan menara itu, nantinya menjadi daya tarik utama dengan model dan menara segitiga yang dikelilingi jalan raya, sehingga merupakan daya tarik tersendiri bagi setiap wisatawan yang datang ke Singkawang.


Namun, bangunan masjid pada awalnya berbeda secara signifikan dari masa lalu. Apa yang saat ini melihat bangunan Masjid Singkawang Raya sangat besar dan jauh lebih modern.

Ini karena bangunan masjid telah direnovasi untuk membuat masjid dengan gaya yang sangat berbeda dari penampilan masjid sebelumnya dan tentu saja jauh lebih menarik, menjadikannya spesialisasi di Singkawang dan pusat studi Islam terbesar di Indonesia. Kota Singkawang.


Sekarang bangunan Masjid Agung di Singkawang dilengkapi dengan dua menara tinggi di kanan dan kiri masjid. Masjid ini telah direnovasi tetapi beberapa bagian masih mempertahankan keasliannya sejauh ini untuk melestarikan dan melestarikan peninggalan bersejarah bekas Masjid Singkawang Raya. Bagian menara masjid tua yang dibangun oleh tiga bersaudara masih kuat seperti aslinya, yang terletak tepat di sebelah menara di menara yang baru dibangun.


Dinasti Mughal India memiliki sentuhan gaya di atas menara sebelumnya, yang berbentuk persegi panjang dan menurut jasa Pembuat Kubah Masjid menjelaskan bahwa dahulunya masjdi ini memiliki kubah berbentuk bawang yang sekarang dicat dengan emas.


Dua menara yang sekarang berdiri adalah penggambaran seperti menara masjid di kota Nabawi dan juga menara di Masjidil Haram. Di fasad, itu juga dibangun dengan menara dan masjid yang sangat tinggi dari dinasti Ottoman di negara Turki. Namun, ada juga budaya jati lokal kecil yang sering digunakan oleh penduduk kota Singkawang, serta ornamen di Masjid Agung Singkawang. Selain itu, ada lubang ventilasi dengan jendela yang relatif besar, dan beranda masjid, yang mungkin sesuai dengan gaya lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *