Masjid Bersejarah Di Tanah Cirebon

Tujuh muazin dimobilisasi untuk memanggil jamaah yang akan melakukan shalat Jumat. “Menjangan Wulu tidak menyukai banyak orang yang masuk Islam dan akhirnya menemukan mengapa banyak orang datang ke masjid, kesimpulannya adalah karena panggilan untuk sholat,” katanya.

Masjid Bersejarah Di Tanah Cirebon

Menurutnya, perhiasan masjid yang tebal dengan Hindu membuat orang penasaran untuk datang ke masjid. Terutama ketika panggilan untuk berdoa diulang, orang-orang yang belum masuk Islam menjadi lebih ingin tahu. Ismail mengatakan Menjangan Wulu adalah penyihir yang cemburu, karena banyak orang di Cirebon berbondong-bondong ke Islam.

Baca Juga: Arsitektur Unik Masjid Di Kota Medan

Konstruksi dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek kerajaan Majapahit Raden Sepat, bersama dengan 200 asisten atau pengrajin dari Demak. Menurut cerita, masjid ini dulunya memiliki memolo atau atap. Namun, ketika panggilan untuk sholat (tujuh) dari shalat Subuh diadakan untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah pindah ke Masjid Agung Banten yang masih memiliki dua kubah.

Belum lagi pilar pendukung jati, masih seperti pilar asli ketika Sunan Kalijaga pertama kali dibangun atas inisiatif Sunan Gunung Jati. Hal yang menarik tentang masjid ini adalah atap masjid yang berlapis dan berbentuk limas, tidak menggunakan hiasan atas yang biasa disebut mastaka atau memolo. Bentuk piramida di atap masjid biasanya ditemukan di masjid-masjid kuno lainnya di Indonesia. Secara umum, masjid tua di Jawa bertingkat dan berbentuk meru dengan dekorasi di atasnya seperti Masjid Agung Demak (tiga lantai), Masjid Kadilangu (dua lantai).

Di beranda kanan (utara) masjid, ada sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai oleh orang-orang terutama selama bulan Ramadhan.

Selain itu, Sunan Gunung Jati juga membawa Raden Sepat, arsitek Majapahit yang merupakan tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid. Tradisi ini dimulai ketika masjid selalu diganggu sebelum sholat subuh oleh Aji Menjangan Wulung yang datang untuk menyebarkan bencana, beberapa muazin yang mencoba mengulangi panggilan untuk mati dipukul olehnya. Untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, Sunan Gunung Jati memerintahkan tujuh muazin untuk secara bersamaan mengumumkan panggilan sholat dan sejak saat itu, Aji Menjangan Wulung tidak pernah mengganggu ibadah para jamaah di Masjid Sang Cipta Rasa. Masjid Sang Cipta Rasa awalnya dibangun dengan 12 pilar atau saka guru yang terbuat dari kayu jati. Namun, karena faktor usia, dukungan kayu didukung oleh pilar besi dan 18 dukungan baru ditambahkan selama restorasi pada tahun 1977.

Tiga ubin ini ditempatkan ketika masjid dibangun oleh Sultan Gunung Jati. Tiga ubin dipasang oleh tiga orang suci, menurut pendapat masyarakat, berarti simbol dari ajaran Islam, yaitu, iman, Islam dan Ihsan.

Kemudian itu diatur dalam pilar (saka) dan sejauh ini salah satu pos pendukung di sebelah selatan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikenal sebagai Saka Tatal. Ini bisa dilihat dalam arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang menggabungkan gaya Demak, Majapahit dan Cirebon.

Ini dibuktikan dengan pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan Cirebon dan Pura Jamblang. Ini bisa dilihat dalam arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang menggabungkan gaya Demak, Majapahit dan Cirebon. Ada percampuran budaya atau akulturasi dalam arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa, karena orang-orang Cirebon di masa lalu terdiri dari berbagai kelompok etnis. Sunan Kalijaga tidak berhenti untuk menjadi kreatif dan kemudian memerintahkan penjaga untuk mengumpulkan potongan kayu atau keripik yang tersisa.

Karena faktor usia, dukungan kayu didukung oleh pilar besi dan 18 dukungan baru ditambahkan selama renovasi pada tahun 1977. Di beranda di sebelah kanan (utara) masjid adalah Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang penuh sesak oleh orang-orang terutama selama bulan Ramadhan. Air ini dikatakan efektif untuk pengobatan berbagai penyakit dan terdiri dari dua kolam yang juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang. Masjid ini terdiri dari dua kamar, yaitu beranda dan aula besar. Masjid ini dibangun pada 1480 Masehi dengan arsitektur yang mirip dengan Masjid Agung Demak.

Fitriani, seorang turis yang datang berkunjung bersama keluarganya, termasuk mereka yang percaya ini adalah jenius dari Sunan Kalijaga, sehingga masjid itu siap pada malam hari. Di ruang utama, banyak pilar kayu yang didukung oleh konstruksi besi modern om historis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *